Wednesday, 17 September 2008

Do people loose their mind?

Apa orang sekarang udah ga punya hati? Berita tentang kejahatan makanan apalagi yang musti kita dengar? Kita udah tau tentang baso tikus, baso boraks, tahu-ikan-tempe-mie berformalin, agar-agar-gulali berwarna tekstil, beras-merica pemutih, air mineral mentah, minuman siap saji palsu belum kejahatan palsu lainnya. Dan sekarang kita mendengar, makanan sisa diolah dan disajikan kembali. Do people actually loose their mind? Apakah mereka yang melakukan itu pernah berpikir, sekali saja? Faktor ekonomi-kah yang lagi-lagi harus disalahkan? Pernah mendengar orang-orang tertentu yang menjadikan kardus (tempat untuk membungkus sesuatu) yang dicacah dan dicampur air lalu diolah sedemikian rupa agar terlihat seperti daging sapi olahan lalu mereka menjualnya. God.

Terkadang kita miris melihat pengamen dan gelandangan. Get a job for God Sake!! Apalagi orang-orang tersebut masih bugar dan terlihat punya tenaga untuk melakukan dan mencari sebuah pekerjaan. Mereka hanya malas. Mereka bisa menjadi buruh atau pembantu rumah tangga. Tapi kalo mereka memilih pekerjaan kejahatan memanipulasi makanan seperti yang sudah disebutkan di atas? Mana yang lebih baik jadinya? What a question!

Puti Manira, 12 September 2008, 17: 50

Saturday, 6 September 2008

Jumat, 5 Agustus 2008

Actually someone wrote this for me, someone special on 2005 until 2006

Catatan harian tanggal 29 Desember Pukul 23.15

“Pada umumnya wanita tidaklah semuda dalam lukisan.” (Max Beerbhoum, karikatur Inggris)


Assalamualaikum Wr. Wb.

Albert Einstein pernah berkata begini, “Yang diangan-angankan menerangi jalanku dan dari waktu ke waktu memberiku suatu keberanian baru untuk menatap kehidupan dengan suka cita adalah karakteristik kepribadian, kecantikan alami, dan kebenaran. Subyek-subyek hambar yang manusiawi seperti kepemilikan (harta benda), sukses penampakan luas, dan kemewahan selalu kupandang rendah.” (forum & century, vol. 84).

Jadi aku ingin ngomong satu hal tentang Puti! Mengenai Cantik. Cantik, Beauty? Pretty? Geulis? Apa yang dimaksud dengan cantik? Wanita cantik? Apa perlu di rumuskan? Apakah penampilan fisik kamu yang memberikan kepuasan pada perasaan, atau apakah cantikmu merupakan bagian mutlak yang mengatasi segala keindahan dan kemewahan?

Apakah cantik itu = “kamu apa adanya” (Billie Joel, ‘Just the way You are’).

Letak dan bentuk tulang pipimu yang tepat itu dilihat oleh lapisan daging yang tepat pula. Kulit yang halus lembut, mata yang bersinar dan bibir yang pandai berbisik. Dan mata yang berkilauan seperti sepasang kejora dan bibir tersenyum meruntuhkan iman, atau suara bibirmu? Atau apa?

Syair gombal namun indah Mirya Muhamad Ruswa ini barangkali pantas aku kutip untuk memuji kecantikanmu, Put:

Kau lebih cantik ketimbang cempaka mewangi
Murni di setiap raut perilakumu menawan hati
Belaka dikerlingmu, amarah dewani sedahsyat maut

Kugenggam piala bagi juwita puteri
Yang memuja dewa anggur
Kudambakan wajahmu cerah jelita
Senyummu kemilau sebening hablur

Jangan binasakan hatiku, sayang
Kalau kau ingin tau rupa jelitamu
Dipantulkan cermin bening terang
Cemerlang terpancar dari testamu
(Pramuria dari laknan)


atau harus ku kutip ungkapan Hamlet yang memuji kecantikan Ophelia:

ia bukan heroin
tetapi letakkan ia di pangkuan kami
dari tubuhnya yang cantik dan murni
akan harum tumbuh bunga-bungaan bulan mei
(Shakespeare, babak 5, adegan 1)


atau apakah kecantikan harus dikaitkan dengan sosok tertentu, semisal: Srikandi, Shakuntala, Cinderella, Puteri Scherayade, Lady Di, Ken Dedes, Cleopatra, atau Putri Salju? Aku pernah mengagumi sosok Bella Saphira, Catherine Zeta Jones, Alicia Silverstone, ya para artis film itu, lalu kecantikan mereka, Put, kini cuman sisa!

Lantas aku cari impian cantik yang baru, semacam idola bersifat kolektif. Maka aku bakalan terkagum-kagum menatap Winona Rider, Julia Robert, Gong Li, Meg Ryan, para supermodel, atau bahkan Ira Koesno. Atau apakah cantik harus dihubungkan dengan majalah-majalah semacam Vogue, Cosmopolitan Girl, Playboy, Penthouse atau Aneka Yes! Atau yang lebih real; wanita-wanita yang sering ke kantin, di koridor, di kafe-kafe gaul, fame station atau yang keluyuran di seputar BSM dan mall-mall lainnya? Itulah yang kita puja dan kita sembah. Kecantikan fisik, bukan kecantikan hati nurani dan kemuliaan. Kita memuja-muja seseorang yang kita idolakan. Bahasa Inggrisnya, Idol, penyembahnya itu, Idolatry. Yang kita puja adalah wajah cantik dan dan tubuh seksi. Atau cantik harus berkaitan dengan kepribadiannya. Apa pula itu? Sukar membuat definisi semacam itu, terlalu subjektif. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tentang definisi cantik Put, Plato berkata, “Kebaikan berarti Kecantikan”. Dalam Les Misrables, Victor Hugo berkata, “Cantik adalah manfaat sebagaimana pemanfaatannya”. Barangkali lebih dari itu. William Somerset, “Cantik adalah sesuatu yang ajaib dan asing yang membuat seseorang keluar (fail berfikir tentang kekacauan dunia dalam siksaan jiwanya”. ‘Beauty is the truth, truth is beauty. A thing of beuty is a joy forever”. Ada juga Lem Wallace dalam The Prince of India: “Kecantikan adalah semua yang berbeda pada pandangan mata”. Lalu ada film kesayangan saya Life is Beautiful (tapi ngga nyambung nih … hi … hi … hi)

William Shakespeare menganjurkan pada kaum laki-laki:

For where is any author in the world
Teaches such beauty as a woman’s eyes?
Learning is about an adjunct to ourself


Kata-kata Alexander Pope: “Beauties in vain their pretty blue eyes may roll, but weirtwins the soul”.

Dan kahitna pun mendendang …. ‘Cantik’ ….

Tetapi dari semua itu, aku paling suka Fariruddin Attar, Penyair Sufi Persia pada ‘mantiqu’tthair atau musyawarah burung dalam hal memuji wanita:

“Di hadapan kecantikan, bahkan peri-peri pun merasa malu. Dagu yang berlekuk seperti sumur Yusuf dan ikal rambutnya melukai seratus hati. Kedua alisnya busur kembar. Dan bila dilepaskan panah-panah dari busur itu, ruang diantaranya menyajikan pujian-pujian untuknya. Matanya sayu bagaikan kembang narsis, melemparkan daun-daun bulu matanya di jalan para arif. Wajahnya bagai matahari ketika menggantikan keperawanan bulan. Malaikat Jibril tak dapat mengalihkan matanya dan mutiara-mutiara dan manikam-manikam mulutnya. Senyum bibirnya mengeringkan air hayat yang memandang dagunya akan terjungkit ke sumber air berbuih-buih.”

Definisi dan pengungkapan di atas terlalu membius dan melangit. Sederhananya begini, Miles Davis mendefinisikan Jazz dalam empat kata, rock didefinisikan dengan dua kata oleh Dieter Mack dan Jimi Hendrix. Cantik menurutku hanya satu kata: Puti’.

Thank you so much for Apit who is the real writer, hope this becomes readers inspiration approaching a girl or a woman or female, this is great, I just realize that.

-put! ManiRa, 02:00 pagi-

PHOBIA TERASI, what??

Oh my God, I laughed ‘til I cried coz heard my father’s story about my aunt’s phobia. Entah kita (my family when we’re having discussion) sedang membahas apa tiba-tiba bokap gw cerita tentang si UA (kakak bokap gw where we called it on Sundanese) yang takut ama terasi, HA, I mean at first I confused then my father told the reason why.

Jadi si ua tuh waktu kecilnya diajak ke pasar, truz dia ngeliat terasi yang segede bagong (I mean really really huge) warna merah dan akhirnya gara-gara itu dia pingsan. Langsung gw ketawa ngakak sampe gw nangis, I’am sorry auntie, I don’t mean to insult you. Maksud gw, it’s so silly, somebody is afraid of ‘terasi’. Itu kan makanan. Ok let’s we say that somebody is afraid of balloon (actually I know the person who is afraid with, she is Leoni, penyanyi cilik itu loh yang pacar or udah mantan nya Eros Sheila on 7). Ya, dia takut balon. Tapi masih masuk akal coz balon kan kalo accidentally dipecahkan oleh benda tajam menimbulkan suara yang dapat menimbulkan orang-orang di sekitarnya kaget, that’s the first one. Kedua, balon kalo digesek-gesekan dengan benda-benda tertentu dapat juga menimbulkan suara yang menganggu. Jadi masih masuk akal. Lah ini, terasi, it’s food for God sake. Why we should afraid of food! Tapi my father added, mungkin karena saking gedenya jadi menimbulkan bau yang tidak sedap (seperti yang kita tahu bau terasi seperti apa) dan ua gw itu ga tahan jadinya pingsan. Well itu masuk akal, tapi yang anehnya semenjak itu ia phobia terasi ‘til she cannot capable to eat any kind of terasi.

Truz gw terheran-heran, ko bisa terasi segede itu. Konon katanya (kata nyokap gw so ‘nya’ refers to my mumz) dulu tapi sekarang mungkin masih ada di pasar baru. Terasi itu tidak dijual dengan kemasan kecil, jadi bentuk terasi aslinya dari supplier ya segede bagong itu (duh ga enak banget sih nyebut bagong, sorry though). Ya well, mungkin segede bagong disini means segede sofa yang ada di rumah, my momz serious says that u know). Jadi orang-orang yang mau beli terasi mau seberapa banyak pun, kg ons, whatever you want. Si pedagang tinggal memotong terasi yang gedenya bikin ua gw pingsan dan fobia sampe sekarang dan memberikannya kepada pelanggan yang menginginkannya. Oh my God, I still laugh at that.

It’s funny though, gw jadi tau asal-usul bentuk terasi, mungkin kalo sekarang udah per kemasan kecil yang praktis tapi emang zaman dulu katanya (nyokap dan bokap gw) tidak ada kemasan atau plastik or whatever buat beli ya terasi itu, mentega, minyak, anything. Jadi orang-orang bawa tempat lah, ato kaleng kalo mereka belanja ke pasar.

Interesting…
-put! maniRa-some week on August ‘08
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...