Wednesday, 21 April 2010

Don’t get married until ..

Entah karena pengaruh masa kecil apa, kok tampaknya saya takut juga berkomitmen. Tapi saya mau kok get married, because I am normal, because it is the way should be, because after finished study --- getting a job --- have a serious relationship --- then people start ask WHEN ..

Tidak perlu ditanya lah kenapa saya takut berkomitmen .. intinya saya emang parno-an. Entah kenapa juga di saat mulai baca buku lagi, semuanya berbau wedding, mulai dari chicklit ‘a very yuppy wedding , divortiare sampe marriageable’.

Sampe gak sengaja nonton film kelas ‘b’ (if u are movie buff then you know that term) yang berjudul ‘things before say I do’ di hallmark channel (gosh I’m gonna miss cable when I go back later on June)

Sebenarnya, saya ingin mengungkapkan pendapat yang sesuai dgn judul di atas which is ‘please, don’t get married until three things below (for a girl)’

And there are:
1. Finished your college study either diploma or your bachelor degree (its just choice),
2. Has ability to support your own life by having a job,
3. Already have relationship at least for a year.


Why:

Kalau udah selesai kuliah, beban kamu juga jadi lebih enak. Maksud saya, kebayang di pertengahan kuliah, you get married then have baby then suddenly you get stuck between taking care kid and finishing your thesis.

Hmm, emang yang selesai kuliah saat mereka yang memutuskan nikah saat kuliah, banyak, tapi ada juga yang malah drop out.

Sayang sekali,

jangan karena kamu cewe jadi gak bisa raih gelar prof, tolong ya ini udah taun berapa di saat feminisme semakin digembor-gemborkan.

Yang kedua, sudah mampu menghidupi diri sendiri at least di level, menengah, yah udah bisa beli makan sendiri, bayar kost, beli baju, beli bedak sendiri, beli bb (haha ..)

Jangan ngandelin diri sama laki!!

Dan yang paling penting, kamu seenggaknya udah mencapai si kata ‘anniversary’ sebelum memutuskan untuk menikah. Aduh jangan sampe buru-buru deh, gara-gara ngiler liat temen-temen udah pada pamerin foto pre-wed di facebook.

Remember, you will spent the rest of your life with him. There is no sentence, I think I will decide to resign from the institution of marriage (even kenyataannya, sangat banyak sekali perceraian di mana-mana).

Tapi buat saya yang super egois, jangan dulu menikah sampai impian yang kamu inginkan tercapai kecuali kamu sudah berumur 28 !! still 3 years again though ;p

--- almost last April 2010 ---

Sunday, 18 April 2010

ini pure curhat …

sebenernya gw siap, mungkin gak taun ini, taun depan tapi mungkin harus pending buat ke next step nya, having kid. Kenapa?

Di pikiran gw, kalo mau berkeluarga, harus seengganya udah pasti mau tinggal dimana dan punya mobil, why should have car? Cos motorcycle is not enough.

Kalo lagi di jalan and berenti di lampu merah dan gw liat small fam who dad membonceng his wife and two kids, one is still baby and other still toddler. I don’t want to be like that. Gw tau, kalo rezeki ga kemana tapi kalo usaha harus selalu dimulai dari detik ini juga.

Ga usah lah ngomongin soal rumah dan mobil, lets talk about nuptial budget. Gila, mahal banget, mau lo pengen sesederhana mungkin, itu tetep butuh duit and to be honest, if other parents (including you guys) already prepare your nuptial budget but not my parents, AND I DON’T BLAME THEM.

Itu berarti kan gw yang harus usaha sendiri, dia tuh tidak pernah mengerti ini, padahal dia tau setengah matinya gw and my fam buat bayar kuliah S1 gw dari mulai minjem duit sodara, nyicil kartu kredit, kaka gw bantuin bayar sampe gw sendiri meski cuma beberapa ratus ribu doang, berusaha buat tutup semuanya.

Why he never understands that!!

My parents are broke. We just have 1 car and 1 house, that’s it. And once again I don’t blame them.
He always said, lets make simple. But still we need money, and another egocentric about me, I don’t know spend all my saving money for that stupid budget.

Gw ga mau gara-gara buat nuptial budget, my parents had to borrow money or even sell something. THAT’S JUST SO FUCKIN CRAZY.

Let me work first, kalo dia bilang gw sangat childish which is true, dia juga childish banget, bertaun-taun kerja tapi mana tabungannya. Nyisihin lima puluh ribu sebulan aja gak mau.

Gw masih dua empat, gw belum siap, gw tau kalo nunggu siap, gw tidak akan pernah siap tapi gw juga TIDAK MAU ENDED UP seperti teman-temannya yang mengorbankan pekerjaan mereka for getting married.

Namanya, Shinta (not a real name), resign dari perusahaan provider telekomunikasi terbaik di Indonesia dan itu berlokasi di bandung for getting married. Now I heard, shes just housewife taking care her daughter, not working.

Namanya, Della (not a real name again) terpaksa resign karena di kantornya ga ada jatah cuti hamil dan hingga saat ini meski anaknya hampir setaun, dia belum bisa mendapatkan pekerjaan baru.

Gw tau semua butuh pengorbanan, tapi gw benci jadi cewe, meski udah terkoar-koar yang namanya prinsip emansipasi dan gender equality tapi tetep perempuan lagi-lagi yang harus mengalah.

Jadi benci juga sama kodrat.

All I’m saying, please just give me time again until Jan 2011 … sisa 6 bulan ini akan gw habiskan buat planning backpacker dan mencari pekerjaan tepat di perusahaan yang berprospek cerah then propose me.

Gw memang egois setengah mati but this is for me and our future also, so let me be egocentric and ask you to wait again … I don’t want to be like Shinta and Della.

Sunday, 11 April 2010

reading as hobby

sebenarnya saya suka membaca buku dan koran tapi kadang-kadang suka malas. Melihat deretan kata yang merapat rapi di setiap halamannya. Bikin ngantuk.

Saya juga masih bela-belain beli dvd daripada beli buku karena dvd ada versi bajakannya yang tentunya harganya murah sekali, kalo buku kan tidak ada. Ada juga versi pinjam-meminjam. Saya memang lebih memilih menonton filmnya daripada membaca suatu buku. Simple case, saya tidak pernah bisa membaca salah satu buku Harry Potter hingga selesai. I don’t know why, its too thick, I think.

Saya terkagum-kagum dengan penulis novel, can I be a book writer someday? Even just, for instance 100 pages.

Books writers are so deeply amazing.


Saya pernah akan mencoba menulis yah ceritanya novel tipis tapi yah susah banget, mentok tengah jalan pastinya. Susah buat nerusin plot ceritanya.

Tadi siang saya baru saja baca novel lebih tepatnya chicklit atau bahasa indo nya metro pop yang berjudul ‘a very yuppy wedding’ by ika natassa.
Keren, bagus, meski agak terburu-buru di bagian akhir (itu standar kayanya di setiap novel) dan kurang detail di bagian wedding prep-nya (but who am I critize that novel) dan seperti biasanya ada beberapa kalimat yang bagus untuk dikutip (sebenernya lebih tepatnya ‘gw banget nih’)

“Lo tau nggak, si Tania kan mau resign kalau udah kawin nanti. Katanya mau buka usaha aja. Males terikat jam kantor.”

“Kalau elo?”

“Kalau gue nikah, maksud lo? Ya gue nggak bakalan resign. Emang laki gue sanggup menanggung hobi belanja gue?”

“Nah, di situ salahnya, Dre. Kalau laki-laki itu siap jadi laki lo, ya dia siap memenuhi semua kebutuhan elo dan keluarga.”

“Lagian Ji, kayaknya nggak zamannya lagi sekarang cewek cuma minta duit dari lakinya. Cewek nggak kerja itu sama aja dengan pabrik kelapa sawit nggak pake kebun.”

Di telepon mungkin aku masih sanggup inggih inggih pada ibu Adjie, tapi kalau ketemu langsung? Aku bahkan tidak tahu caranya sungkem.

Aku nggak bisa. So please, just let me be egocentric and ask you to stay.


But this is the best:

It’s funny how marriage can limit your possibilities, right?


Sudahlah tak usah ditanya kenapa or mengapa tapi hari ini all about wedding. Setelah baca itu, saya nonton film di hallmark channel yang berjudul ‘things before you say I do’.

Anyway balik lagi ke soal buku dan membaca. Saking malasnya membaca saya lebih pilih masuk ipa padahal otak saya pas-pas an, (hmm sepertinya saya sudah pernah menulis tentang ini di blog mengenai resolusi 2010 deh) yah anyway novel yang tadi say abaca merupakan novel yang saya baca setelah sekian lamanya. Dulu sih paling banter say abaca komik tapi yah semenjak kuliah di jurusan bahasa, mau gak mau harus menjadi besties nya novel. Lama-lama menyadari bahwa sebenernya saya itu suka baca sebenarnya cuma malas aja. Waktu resign dari kerjaan pertama saya setelah lulus sarjana tapi bukan officially kerjaan pertama (cos I worked before after I took my diploma degree), saya jadi member di taman bacaan dan lumayan lah, baca beberapa chicklit.

Saya suka banget chicklit Indonesia, soalnya lebih ngegambarin situasin yang Indonesia banget, kalo chicklit luar agak bosen sih and once more I said, I prefer watching it than reading it.

Novel karya Dan Brown juga suka, tapi kalau Agatha Christie kurang suka yah. Fave saya yah chicklit Indonesia atau metro pop. Ninit Yunita, Aditya Mulya juga saya baca karya-karyanya.

Setelah kerja di Jakarta, saya off baca dan awal taun 2010 saya punya resolusi baru (which you knew) baca Koran. Hari ini saya iseng pinjem member teman saya buat pinjam novel yang alasan sebenarnya sih gara-gara pas pulang kerja kemaren tukang korannya udah tutup jadi hari ini saya pilih pinjam buku saja.

Maybe if I go back to Bandung which is in 2 months (yeah it means I just have to pay 2 rents again yeah) saya mau join member di ZOE (the most famous book rental in Bandung), and start reading again.

Benar-benar ya, Jakarta ini bikin saya bodoh cos dari kerjaan gak nyambung sama ilmu, jarang nonton berita, jarang baca Koran apalagi buku. Tapi yah saya jadi tau dunia anak dan lebih mandiri tentunya.

YEAH tinggal 2 bulan lagi put … big smilling will come soon!!

Friday, 2 April 2010

Umbrella .. ella … ella ..

When the sun shines, we'll shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be a friend
Took an oath I'ma stick it out till the end
Now that it's raining more than ever
Know that we'll still have each other
You can stand under my umbrella ella ella e e ..



Yups … that is a song by Rihanna. Sangat terkenal beberapa saat lalu, ga usah ditanya, fenomenal malahan dan saat ini saya mau ngomongin soal paying yah si ella ella itu hehe.

Dulu, waktu jamannya saya masih sekolah, saya paling males yang namanya bawa payung. Meski saya udah tau saat itu musim hujan dan hujannya bukan sekedar hujan rintik-rintik atau gerimis tanggung tapi hujan gede alias badag (in sundanese – RED) tapi meski ibu saya udah ngomel, sengomel-ngomelnya. Saya tetap gak peduli dan cuma bersikukuh bawa jaket tebal bertopi.

Jangan ditanya pas SD, mungkin kalo setingkat anak SD jelas-jelas masih ogah-ogahan bawa payung walhasil jalan keluarnya adalah jas hujan (which I did, I mean I wore a rain coat when in rainy season back elementary school) tapi umumnya anak SMP dan SMA udah mulai dong anak-anaknya cewenya telaten bawa payung tapi si saya tetep anti bawa payung dengan alasan ribet, tampak seperti ibu-ibu yang mau ke pasar (haha alasan apa pula itu) dan sebagai lainnya.

Meski sudah beberapa kali pulang sekolah kehujanan dengan baju rambut yang super basah dan ribuan omelan ibu akan keharusan membawa payung, tetap tidak berpengaruh buat saya, akhirnya beliau pun menyerah. She stopped suggesting me to bring umbrella.

TAPI … ketika kuliah saya masuk ke PT Negeri yang namanya sudah tidak asing lagi di Bandung. Karena lokasi kampusnya bukan di Bandung melainkan Jatinangor, perbatasan kabupaten Bandung dan kota Sumedang, akhirnya saya pun nyerah juga dengan pendirian saya akan ke-anti-an saya membawa payung.
Gimana tuh ceritanya?

Jadi gini, Jatinangor itu daerah yang cukup panas memang panasnya belum mengalahkan Jakarta tapi panas. Selain itu tempat tersebut menjadi lalu lintas truk dan bis besar yang menuju arah luar kota Bandung. Jadi kebayang dong udah hawanya panas ditambah polusi kendaraan yang gak tanggung-tanggung sangat berasap.

Lalu, apa hubungannya dengan sin eng ella tersebut?

Jadi kampus saya pun lokasinya gak tanggung-tanggung dekat antara jarak gerbang kampus – gedung kampus – dan terminal bis yang menjadi alat transportasi kita-kita si mahasiswa yang berdomisili di kota Bandung. Kalau ditanya km nya, berapa ya? Saya juga gak tau persis. Cuma lumayan membakar kalori dan juga membakar kulit jadi gosong.

Loh, memangnya gak ada transportasi lain yang langsung menuju gedung kampus?

Itu emang ada, Cuma nanggung jadi maksud saya alternative ke gedung kampus yang dituju itu ada beberapa pilihan:

1. Naik ojek yang tentunya harganya lebih mahal
2. Dari terminal naik angkot dengan ongkos seribu perak lalu jalan sedikit dan sambung lagi angkot kampus yang langsung menuju kampus (nanggung kan)
3. Jalan sedikit dari terminal lalu naik angkot resmi kampus (yang ini memang angkotnya bertitel nama kampus) Cuma karena armadanya Cuma 2 buah jadi kadang-kadang ada, seringnya sih gak ada.

Begitu loh kalo gak mau cape, tapi berhubung fakultas saya jarak gedung adri gerbang kampus cukup tanggung (dibilang jauh ya lumayan jauh tapi dibilang dekat, cape juga kalo jalan kaki) makanya saya pilih jalan kaki dari terminal ke angkot kampus yang terletak di dekat gerbang kampus dari situ baru naik angkot kampus yang terakhir sih bertarif 1000 perak (entah sekarang berapa).

Nah kalo jalan kaki kan lumayan, berhubung panasnya nauuzubileh jadi mo panas ke apalagi ujan mending pake payung kan lumayan mengurangi efek gosongnya kulit akibat sinar ultraviolet.

Jadi yah semenjak tahun 2003 hingga saat ini saya selalu menyimpan payung di tas saya kecuali kalo ke ondangan yah, yeah do u think an umbrella fits in a purse tapi tetep saya bawa titip di bagasi motor pacar saya.

Cuma belakangan ini kalo saya ke Bandung (yeah I works still works until June to be exact) saya males bawa payung, alesannya yah kadang saya suka bawa barang seabreg-abreg kaya udah mau kemanaa gitu padahal Cuma pulang ke rumah doang. Yah mengurangi beban aja biar bahu gak nambah bungkuk.

Just another lazy Sunday, saya sudah seperti anak hilang di sportmall ini hehehe … 28 March 2010
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...