Monday, 7 January 2013

Stereotype

Kita pasti hidup stereotype and typical *kaya ngerti maksudnya apa. Lahir-Gede-Sekolah-Kuliah-Kerja Kantoran-Married-Punya Anak-Melanjutkan Hidup til the end hehe.

Typical atau stereotype apapun itu yang pertama adalah. Kuliah. Ini saya sangat setuju namun dengan biaya kuliah yang semakin tahun semakin mahal ada juga beberapa kelas masyarakat yang tidak mampu menguliahkan anaknya di bangku universitas *settt dahh :D. Saya setuju banget, setiap anak harus sekolah dan masuk bangku kuliah. Pertama, supaya dia bisa kerja dengan penghasilan yang setidaknya mencukupi hidupnya sendiri, kedua yang namanya ilmu gak kemana. Menuntut ilmu itu sangat bermanfaat. Ketiga, you are def gonna be smarter person. Bangku kuliah open your minded.

Tapi balik lagi ke arah tapi, alhamdulilah banget buat semua yang mencicipi bangku kuliah meski cuma program diploma 1 tapi itu udah ok menurut saya. Sebelum menjadi orang tua, decided and prepare, anak lo harus lulus bangku kuliah. Tapi saya yakin orang tua yang Sarjana pasti akan mengaplikasikan hidupnya kepada anaknya kelak *amin. Namun seperti yang sudah dibicarakan tadi mengenai biaya kuliah yang sekarang sampai ratusan juta, setidaknya berusahalah agar anak bisa masuk kuliah dulu, nanti udah kuliah persuade supaya cari uang tambahan dengan kerja atau bikin usaha apa untuk tambahan bayar kuliah. Salute untuk semua yang kuliah sambil kerja bayar uang kuliahnya pure sendiri.

Yang kedua adalah, Kerja Kantoran. Saya juga masih setuju meski selalu komplen di twitter, pindah-pindah gawe haha tapi saya memilih dan lebih nyaman seperti ini. Kenapa? Setiap bulan berpenghasilan tetap. Masalah cari suami juga seperti itu, gak apa-apa gajinya gak sampe 10 juta sebulan tapi at least kerjaan dia stabil. Kenapa ya bisa terpatok pikirannya kaya gitu padahal wirausaha itu bagus cuma kepentok di modal. Memang untuk penghasilan setiap bulan belum tentu satu juta misalnya, tapi bisa lebih dari itu. Bokap tipe orang yang seperti itu juga dan dulu keluarga ada yang berwirausaha tapi sebelum merit akhirnya kerja kantoran juga.
Rata-rata semua cewe mendambakan pacar suami seperti itu termasuk saya, kalau pun ada yang ok gak masalah dengan kerjaan apapun anda itu, yang penting berpenghasilan, kadang mentok di orang tua. "Kamu kerja apa? Mau kasih makan anak istri apa nanti?" Orang tua kan mendambakan anaknya jadi dokter, engineer, pegawai negeri sipil, pegawai bank, dan lainnya. Padahal belum tentu itu semua menjamin kesempurnaan hidup *halah apa sih saya hehe. Dokter?? Siapa yang gak mau jadi dokter? Saya juga dulu jaman SD nulis diary temen-temen kalau ingat.

Cita-cita : Dokter

hahaha, stereotype banget. Tapi pertama keotakan engga, jadi dokter harus mampu loh, ada sih yang otak pas-pas an jadi dokter, bisa masuk universitas swasta yang akreditasinya so so. Tapi itu mampu gak 6 tahun kurang lebih kalau lancar, 4 tahun meraih gelar sarjana nya dulu baru KOAS lalu lainnya. Kedua, biaya!! Ortu asbun aja anak mau jadi dokter, eittsss jangan salah biaya kuliahnya berat cuy. Ketiga udah kerja jadi dokter, hmmm dokter bagian UGD yang kerjanya jam 2-3 pagi buta. Hmm enak gitu, saya masih dengan sangat senang bekerja dari Senin sd Jumat, jam 8 sampe jam 5 sore aja :D. Tapi mungkin seiring dengan berkembangnya jaman, cukup lah orang tua make a wish, anaknya selesai kuliah tepat waktu, langsung kerja di perusahaan yang dapat menjamin kehidupannya kelak :D atau berwiraswasta dengan sukses :D.

Yang terakhir, menikah dan punya anak, ya kalau mau end up alone silahkan tidak perlu menikah tapi without spouse haduh hidup saya aja sekarang sangat membosankan hehe. Tapi again, cukup umur, bisa hidup sendiri dan siap :D.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...