Monday, 13 July 2009

Budaya Baca Bagi Calon Pemimpin Bangsa

tadinya mau ikutan lomba nulis menpora tapi pas lagi sibuk and hore juga jadi weh keburu deadline dan akhirnya tak jadi ikutan,,,heu ^_^


Budaya Baca Bagi Calon Pemimpin Bangsa

Membaca bagi sebagian orang bukanlah sebuah hobi. Saya pun adalah salah satu dari banyak orang yang malas membaca buku. Saya menyadari hal ini akibat dari sistem pengajaran di sekolah yang tidak membudayakan baca. Meskipun sudah banyak ajakan dan himbauan mengenai budaya baca, namun bagi beberapa orang, membaca adalah hal yang sulit dilakukan. Tidak hanya bagi calon pemimpin bangsa yaitu generasi muda, menurut saya membaca harus dibudayakan bagi seluruh generasi.
Saya ingat ketika saya bersekolah dari tingkat sekolah dasar hingga menengah umum, saya sedikit sekali membaca buku selain pelajaran. Mengapa, guru-guru tidak mendorong siswanya untuk membaca karya-karya sastra ataupun non-sastra yang merupakan buku yang edukatif. Hanya sewaktu saya di tingkat menengah pertama, guru bahasa Indonesia saya memberikan tugas “book report” untuk buku karya sastra. Saya ingat, saya memilih karya Sutan Takdir Alisjahbana yaitu Layar Terkembang sebagai bahan untuk tugas tersebut. Novel tersebut merupakan satu-satunya buku karya sastra yang saya baca. Hal ini terdengar miris namun itu adalah kenyataan. Saya pun tidak bangga akan hal itu.
Sewaktu tingkat dasar dan menengah umum, tidak ada satu guru pun terutama guru bahasa yang mendorong saya maupun murid lainnya untuk membaca buku lain di luar buku pelajaran sebagai referensi atau acuan ataupun tugas “book report”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Siapa yang harus disalahkan, guru, sistem pengajaran pendidikan di Indonesia, atau sistem pengajaran pendidikan guru seperti universitas pendidikan bagi calon guru atau memang budaya bangsa kita?
Saya dan anda tentunya sering melihat film hollywood tentang sekolah atau anak-anak sekolah. Contohnya film “______”. Guru tersebut menugaskan murid-muridnya untuk membuat “book report”. Tidak hanya untuk pelajaran bahasa, pelajaran sejarah hingga sosial pun terdapat tugas “book report” dalam sistem pengajaran mereka. Mengapa hal ini tidak diterapkan di Indonesia? Apakah karena kurikulum yang begitu berat sehingga para guru lebih memfokuskan diri pada buku pelajaran. Mengapa saya bilang berat? Semua anak dan orang tua mengkhawatirkan diri mereka sendiri ketika mendengar kata Ujian Akhir Nasional.

>>>>will it finish? I dunno, maybe no

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...